2009
Lama banget nggak nulis. Penyebabnya klasik: mati gaya. Giliran ada ide, males nulis secara manual alias pake tangan (padahal di tas selalu ada notebook yang tujuannya ya itu, buat nulis). Bener-bener udah terpasung pada teknologi komputer. Padahal jaman komputer belum ada, nulis juga manual. Jadi inget ulangan Sosiologi Antropologi, Tata Negara dan Sejarah yang makan kertas berlembar-lembar. Belum lagi kalo test atau ujian semester di jurusan Sosiologi, yang maksimal panjangnya tiga halaman. Istilah jaman sekarang, mengarang bebas...
Bulan Januari udah nyampe pertengahan, tahun 2009 udah jalan dua minggu. Cepet banget waktu berjalan! Baru dua minggu pun, udah banyak kejadian. Pertempuran Israel vs Hamas yang memasuki minggu ke tiga, dan menimbulkan serangkaian gelombang protes di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, yang berpotensi menimbulkan kekusutan sosial karena banyak mengusung simbol-simbol agama. Hare geneeee... Belum lagi hujan deras di berbagai belahan bumi nusantara, yang menyebabkan banjir di berbagai daerah dan menimbulkan kemacetan yang makin parah di ibukota.
Ngomong-ngomong soal macet, setelah Pemda DKI memberlakukan jam masuk sekolah lebih pagi, sekarang giliran para pekerja swasta yang akan diatur berdasarkan daerah. Jadi tiap daerah jam masuk dan pulangnya beda-beda. Tentu aja hal ini menimbulkan protes di kalangan bisnis dan usaha. Ya iya lah, mikir nggak sih konsekuensinya? Lagian, seneng amat ngatur-ngatur hidup orang, sementara kemacetan di Jakarta itu disebabkan volume kendaraan yang sudah tidak bisa diakomodir oleh jalanan yang ada. Kenapa kendaraan makin banyak? Satu, tidak tersedia sarana transportasi umum yang memadai, nyaman, aman dan cepat. Kedua, pengaturan ijin kendaraan umum yang sarat dengan pungli membuat jumlah kendaraan umum tidak sesuai dengan kebutuhan. Ketiga, kondisi jalan yang rusak meskipun sudah diperbaiki berulang kali dan hanya bertahan selama beberapa hari, alias tambal sulam doang.
Jadi..., apa dong yang baru di tahun 2009? Hmmh..., rasanya nggak ada deh, kecuali situasi politik yang makin simpang-siur menjelang pemilu. Banyak tokoh politik yang carmuk alias cari muka, tiba-tiba jadi perhatian dengan nasib rakyat miskin. Tiba-tiba pemerintah mendengarkan aspirasi rakyat, tiba-tiba anggota DPR merasa perlu membela kepentingan rakyat. Sementara rakyat?? Tetap aja susah cari tabung gas dengan harga yang sudah dipatok Pertamina, susah cari Premium yang katanya sudah turun harganya, susah cari kerja karena imbas krisis ekonomi global...
Masih diperlukan banyak ketabahan, kesabaran dan kekuatan menghadapi kekacauan di sekitar kita. Supaya nggak makin stress, lebih baik mencoba untuk mengalir, bukan untuk terbawa arus, tapi mengawasi ke mana arus bergerak sambil mempersiapkan langkah yang perlu.
Happy belated new year...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home