Sunday, May 11, 2008

Wisata Kuliner Solo

Sebagai orang yang lahir, besar dan berdomisili di Jakarta, udah jelas gue nggak pernah mengenal konsep kampung halaman. Jadi pelajaran jaman SD dulu yang selalu mengaitkan liburan dengan berlibur ke rumah nenek, atau tradisi pulang kampung waktu lebaran atau hari raya, nggak pernah relevan buat gue. Paling kesempatan untuk mengecap pengalaman pulang kampung terjadi waktu gue sekolah di Melbourne 11 tahun yang lalu. Tapi susah juga untuk mengatakan pulang ke Jakarta pulang kampung, karena Jakarta adalah kota metropolitan, yang jauh lebih rame dan meriah ketimbang Canberra, ibukota Australia.

Anyway..., perjalanan ke Solo, entah kenapa, kok rasanya seperti pulang kampung buat gue. Mungkin karena mengingatkan gue pada liburan masa kecil dengan keluarga. Hampir setiap liburan sekolah, bokap-nyokap gue ngajak gue dan adik gue untuk liburan ke Solo, dan tentunya berwisata kuliner. Belum lagi liburan dengan keluarga besar bokap gue, yang juga diisi dengan kegiatan wisata kuliner. Masih terngiang di ingatan gue, betapa sedapnya bakso di pasar Triwindu dan juga juice durennya yang manis dan legit; nikmatnya soto ayam panas Nggading, lapis Surabaya dari toko Mandarijn yang maknyus, dan timlo Sastro yang tiada duanya.

Karena waktu yang terbatas, perjalanan ke Solo hanya dilakukan setengah hari. Berangkat pagi dari Jogja, dan kembali malam harinya. Gue tiba di Solo sekitar jam 11, menjelang sholat Jumat. Rencananya mau liat museum batik Danarhadi di Jl Slamet Riyadi, tapi apa daya, kalau Jumat tutup jam 11:30, jadi gue cuma sempat foto-foto di depannya dan liat-liat ke toko batiknya, yang
price tag-nya bikin gue hampir tersedak.

Gagal mengintip museum batik, gue jalan ke pasar Klewer, tempat tujuan wisata utama. Tapi ternyata banyak toko-toko yang tutup juga karena Jumatan. Akhirnya diputuskan untuk makan siang dulu, dan gue kembali ke Kartosuro untuk makan siang di tempat pak Slamet, yang konon bebek gorengnya legendaris. Dan ternyata nggak salah!! Bebeknya lembut banget, gurih dan nggak amis. Dagingnya hampir meleleh waktu dikunyah. Sambalnya sambal bawang dilengkapi lalapan, jadi buat yang nggak suka sambal terasi, sambal ini bisa diterima. Meskipun sambalnya super pedes (bayangin, gue aja yang udah imun sama pedesnya cabe bisa bilang pedes), tapi mantab buanget!Gue jadi tau rasanya mengalami big O setelah merasakan bebek goreng pak Slamet, hahahahahahaha...,
just kiddin'! Karena siang itu panas banget, gue pilih es gula asem sebagai minuman pelengkap makan siang. Rasanya seger banget, dan bisa menetralisir minyak yang nempel di bebek goreng (pastinya digoreng pake minyak jelantah lah!). Seporsi nasi bebek goreng dan es gula asem harganya Rp14,500!! Hmmm..., langsung punya ide untuk bikin franchise bebek goreng pak Slamet di Jakarta dong!! hehehehehehe...

Dengan perut kenyang dan perasaan bahagia, gue melanjutkan perjalanan ke pasar Klewer, dan
went crazy there. Gimana nggak mau panik dan bingung, satu pasar isinya bakul batik semua! Udah gitu, mana gue ngerti soal batik?? Jadi nyesel banget, nggak serius belajar waktu sekolah dulu. Gue sempet ngerjain tugas sekolah tentang batik, motif-motifnya beserta artinya. Eyang dan tante gue itu juragan batik, lha gue kok bisa clueless banget?? Tapi yang namanya belanja ya jalan terus. Mengandalkan kenekadan, bahasa Jawa sepotong, dan senyum hangat dan ramah (hahahaha..., basi banget!!), gue keluar-masuk lorong-lorong di pasar Klewer. Mmm.., nggak sempat seluruh pasar gue jelajahi sih, tapi lumayan lah, dapet dua toko yang kualitas barangnya bagus dan sesuai dengan selera gue.

Setelah puas 'ngeborong kain batik, gue mampir ke toko Akar Sari di jalan Coyudan, yang menjual jamu dan aneka rempah-rempah dan akar-akaran untuk jamu maupun bumbu dapur. Buat yang penasaran dengan bentuk tongkat ali, nah..., bisa dicek tuh seperti apa barangnya di Akar Sari. Jamu yang dijual pun beragam, mulai dari yang generik seperti beras kencur dan kunyit asem, sampe ratus V dan sepet wangi (masih berhubungan dengan kawasan V juga). Toko ini juga salah satu kenangan masa kecil, nyokap gue suka beli sirup beras kencur dan sirup gula asemnya. Gue udah tergoda banget untuk beli dua botol sirup gula asem (nggak ada di Jakarta tuh!), tapi mengingat bawanya sulit, terpaksa niat diurungkan.

Dari Akar Sari, gue berburu timlo pak Sastro, yang menurut orang ada di dekat keraton dan pasar Gede. Setelah muter-muter di daerah keraton Surakarta dan Mangkunegaran nggak ketemu juga, gue muter ke daerah pasar Gede, dan ternyata sudah tutup, saudara-saudara! Hahh..., kecewa banget deh! Mana di jalan gue sempet ketakutan, karena tiba-tiba hujan deras banget disertai angin kencang, dan nggak lama terdengar bunyi krotok-krotok di atap mobil, seperti kejatuhan batu kerikil.
Guess what, hujan es!!! Waaaaaaaakk... Cukup lama juga lho, dan gue takut es-nya makin gede-gede.

Gagal bernostalgia dengan timlo Sastro, akhirnya gue mampir ke Keprabon untuk mencicipi nasi liwet Wongso Lemu yang konon nggak boleh dilewatkan. Ada beberapa warung lesehan nasi liwet yang memasang merek Wongso Lemu, dan gue sempet bingung karena nggak tau mana yang asli. Akhirnya gue berhenti di warung yang ada di sebelah kiri jalan, yang warungnya ada foto-foto artisnya (nggak penting banget kan?! hehehehehe...). Gue pesen nasi liwet komplit yang isinya nasi liwet biasa plus sepotong ayam dan ampla. Sebetulnya pesen nasi liwet aja udah cukup, karena udah ada daging ayam yang disuwir-suwir. Tapi dasar kemaruk, minta yang komplit lah gue ditambah krupuk karak (krupuk gendar), kekekekek... Sayang ayam dan amplanya alot, jadi agak mengurangi kenikmatan makan. Habis hujan deras gitu paling enak menikmati wedang ronde, minuman yang terbuat dari jahe dibakar lalu direbus, ditambah gula dan isinya bola-bola dari tepung beras berisi kacang tanah (seperti moci) dan kacang tanah. Buat non Jawa, rasa wedang jahenya mungkin terlalu manis, tapi buat gue sih oke aja. Rasa jahenya juga terasa, sehingga bener-bener nikmat dan hangat. Bola-bola kacangnya juga legit dan kenyal, sementara kacang tanahnya tetap
crunchy, nggak jadi lembek meskipun sudah kena air. Lumayan lah, bisa mengobati rasa kecewa karena nggak bisa mencicipi timlo Sastro. Harganya cukup mahal menurut ukuran Solo, tapi tetap aja jauuuuhh... banget dibandingkan Jakarta. Nasi liwet komplit, krupuk karak dan wedang ronde hanya Rp22,500 saja.

Meskipun hanya setengah hari, rasanya puas banget. Yang pasti, gue pengen balik lagi ke Solo, selain ke pasar Klewer lagi tentunya, ada dendam yang belum terbalaskan, yaitu timlo Sastro dan soto Nggading!!



Labels:

1 Comments:

At 12:02 pm, Anonymous Anonymous said...

hi tiwa..
makasih bwt review solo nya, rencananya dari jogja aq juga mau mampir stengah hari di solo (pagi sampe, sore balik ke jogja).

~ pipi~

 

Post a Comment

<< Home