NKRI harga mati

Baru-baru ini gue ke Sulawesi Utara untuk monitoring program. Tentunya capek, tapi juga seneng karena bisa jalan-jalan dibayarin kantor, dan makan enak tentunya! Di setiap sekolah yang kita kunjungi, hampir dipastikan kita dijamu oleh panitia pembangunan sekolah. Di salah satu sekolah yang kita kunjungi, kita dijamu makan siang dengan segala macam masakan ikan dan ayam, dan semuanya enak! Belum lagi waktu ke sekolah yang lokasinya dekat dengan danau Tondano, kita dijamu makan siang di rumah makan yang letaknya tepat di pinggir danau oleh Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Utara. Segala macam masakan ikan keluar, mulai dari ikan kuah asam, ikan goreng, ikan bakar, sampe ikan woku. Apa boleh buat, terpaksa harus dicoba semua 'kan? Kalau enggak, tuan rumah bisa tersinggung berat, hehehehe...
Selain itu, sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan alam yang indah. Hamparan sawah hijau, barisan pohon kelapa yang berbaris menghiasi deretan pegunungan, serta langit biru dan udara yang bersih membuat perjalanan yang memakan waktu berjam-jam nggak terasa membosankan. Bahkan saat turun hujan dan kabut, pemandangan alamnya masih memukau, bahkan menimbulkan kesan mistis.
Gue selalu menikmati perjalanan, entah untuk monitoring atau lokakarya. Seneng ketemu dengan banyak orang, terutama masyarakat yang menerima bantuan sekolah. Segala kebosanan dan kedongkolan pada orang-orang di kantor jadi terbayar, dan yang lebih penting lagi, bisa dapet masukan langsung tentang program yang kita jalankan. Tentu aja nggak semua info ditelan mentah-mentah, karena selalu aja ada yang pihak yang berusaha mengambil keuntungan. Kadang nggak mudah dan bikin sedih, karena gue jadi berpikir, apakah memang nggak ada lagi kebaikan dan ketulusan dalam diri orang-orang yang gue temui? Kenapa kita harus selalu berpikir negatif tentang orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sekali pun?
Selain itu, ada perasaan nelangsa mendengarkan curhat orang-orang yang tinggal di pulau-pulau terpencil dan di daerah perbatasan. Mereka itu keliatannya bener-bener terlupakan - jauh di mata jauh di hati pula. Tapi dari apa yang mereka kemukakan, komitmen terhadap NKRI masih sangat tinggi. Salah satu kepala sekolah yang hadir dalam lokakarya mengatakan, "Banyak orang-orang dari Filipina yang datang ke pulau tempat saya tinggal. Saya malu kalau mereka melihat sekolah-sekolah kita keadaannya buruk. Kalau tidak dijaga, kita akan kehilangan pulau-pulau di perbatasan. Bagi saya, NKRI harga mati, maka kita harus menjaga dan memperbaiki sekolah-sekolah dan mutu pendidikan kita!"
Gue terpana sekaligus kagum banget dengan ungkapan itu. Betapa orang-orang yang justru berada sangat jauh dari pusat kekuasaan dan pembangunan, masih memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Sementara rasanya konsep kebangsaan buat gue makin kabur. Apa sih esensi menjadi Indonesia? Apakah sekedar bangga memakai produk-produk buatan Indonesia? Apakah perlu dengan mengangkat senjata? Apakah perlu dengan merasa tersinggung ketika ada bangsa lain yang mengklaim kebudayaan kita, sementara kita nggak pernah berbuat apa-apa untuk melestarikan budaya tersebut? Apakah perlu dengan mendirikan partai politik atau menjadi pejabat negara?
Tapi nggak perlu melakukan hal yang besar atau berlebihan juga untuk menunjukkan ke-Indonesia-an kita. Gue orang yang percaya, hal-hal kecil juga punya makna yang besar, ketimbang melakukan hal-hal yang besar tanpa ada cinta dan dedikasi di dalamnya. Small things count. Nggak perlu muluk, karena mereka-mereka yang punya harta dan kuasa belum tentu punya pendapat yang sama, NKRI harga mati. Mungkin buat mereka, harta dan kuasa harga mati, sehingga apapun akan dilakukan untuk mempertahankan harta dan kuasa.
Nggak, gue juga nggak mengklaim diri sebagai orang yang paling benar dan paling nasionalis kok. Apapun namanya, apapun labelnya, apapun yang dinilai orang - mau jadi Indonesia kek, mau jadi apa kek, yang penting buat gue mencoba untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin gue nggak bisa memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia (siapa lu? ;p), tapi gue akan berusaha untuk mengingat komitmen dan dedikasi bapak kepala sekolah itu, ketika gue ketika gue membuat disain program, mengevaluasi program, dan ketika gue membuat rekomendasi program. Itu yang jadi harga mati.
Labels: Reflections


0 Comments:
Post a Comment
<< Home