Thursday, January 17, 2008

Soy Crisis

Sudah sekitar 2 minggu terakhir ini tahu dan tempe jadi berita utama di pelataran politik nasional karena melambungnya harga kedele impor, yang notabene menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Harga tempe goreng naik 5o persen, dari Rp 500 jadi Rp 750. Yang tragis, seorang pedagang gorengan memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu lagi menghadapi tekanan hidup akibat naiknya harga tahu dan tempe, dan juga harga bahan-bahan pokok dagangannya seperti minyak tanah dan minyak goreng.

Tahu dan tempe, yang identik dengan makanan rakyat, ternyata tidak semerakyat yang sering diduga orang. Ternyata kedele diimpor dari Amerika Serikat dan beberapa negara lain, seperti Argentina. Gagalnya panen kedele di beberapa negara penghasil utama kedele telah melambungkan harga kedele di pasaran dunia, yang akibatnya tentu dirasakan oleh para pembuat tahu-tempe dan pedagang gorengan. Menurut Menurut Didik Rachbini, ekonom yang juga ketua Dewan Pimpinan Pusat PAN merangkap anggota DPR, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi (Kompas, 16 Januari 2008). Selain itu, tanaman kedelai di Indonesia masih menjadi tanaman sekunder di kalangan petani, nggak se-sexy padi atau komoditi pertanian lainnya. Akibatnya, perlakuan atas kedelai belum maksimal sehingga hasil pertanian kedelai juga belum optimal. Masa penanaman kedelai masih dilakukan pada musim kemarau. Ditambah dengan perlakuan yang minim selama masa perawatan, maka jumlah kedelai yang dipanen masih tergolong sedikit.

Buat konsumen, sekarang ini hampir mustahil untuk mendapatkan tempe dan tahu di pasar. Seminggu ini aja, asisten gue nggak bisa nemuin dua komoditi ini di pasar. Harga daging naik, harga ayam naik, harga telur naik, harga sayur-mayur naik, harga beras naik, harga minyak goreng naik, tempe dan tahu menghilang dari pasaran. Trus..., gimana nasib rakyat negeri ini kalau semua harga pangan naik????

Labels:

1 Comments:

At 4:20 pm, Blogger Daniel Hunt said...

Apalagi gimana nasib aku yang kecanduan tempeh goreng!

(btw, nice use of notabene :-)

 

Post a Comment

<< Home