Kata Mereka, Saya Terlalu Idealis
Tadi pagi gue ditanya supervisor karena nggak mengajukan diri untuk M&E training. Gue bilang percuma, karena gue udah bisa ngebayangin jawabannya. Trus gue diomelin, karena bersikap gitu. Lha iya lah, secara proses seleksi staff untuk training nggak pernah ada, dan gue udah berkali-kali ditolak dengan alasan gue udah sering ikut training. Gue jadi patah arang dan udah males lagi untuk berinisiatif mengajukan diri. Biarlah boss-boss itu yang bikin keputusan.
Supervisor gue mau mengusahakan supaya gue bisa ikut, tapi buat gue, bukan itu persoalannya. Yang jadi masalah itu nggak pernah ada transparansi dan penjelasan kenapa si A yang dipilih, bukan si B. Yang patah arang bukan cuma gue aja, tapi yang lain juga. Jadi oportunis banget dong gue kalo sekarang gue mau ikutan training karena supervisor gue mau memperjuangkan. Kasian yang lain, yang sama sekali belum pernah dipilih training dan supervisornya males.
Gue dibilang terlalu teguh memegang prinsip. Apa ada yang salah dengan itu? Gue tau, nggak boleh mudah putus asa, mutungan dan jadi apatis. Gue juga tau, gue yang bertanggung jawab penuh terhadap kemjuan karir, masa depan dan hidup. Tapi nggak berarti itu dilakukan dengan menginjak atau menjungkalkan orang lain kan?
Mungkin ada benarnya juga, gue terlalu idealis, sehingga kadang kurang memperhatikan ambisi gue sendiri. Tapi dalam hidup, nggak semuanya melulu mengenai kemajuan karir dan keberhasilan pribadi. Kalau semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri, nggak heran bumi makin gersang dan hancur, nggak heran konflik makin meluas hampir di seluruh penjuru dunia, nggak heran orang makin nggak bahagia meskipun kehidupan mereka secara materi semakin baik. Dalam hidup masih ada orang lain di sekitar kita, yang membutuhkan bantuan kita, yang suatu saat juga bisa memberikan bantuan dan dukungan pada kita.
Hidup bukan melulu soal berapa banyak uang yang masuk di rekening kita setiap bulan, bukan setinggi apa posisi kita di pekerjaan, bukan sebaru apa teknologi mutakhir yang kita miliki. Hidup juga perlu diisi dengan obrolan nggak penting saat makan siang, menikmati secangkir kopi sambil memandang rinai hujan, mencium wangi bunga lily hadiah dari yang terkasih, menghadiahkan pelukan pada teman yang sedang bersedih, tersenyum pada orang-orang yang sedang memusuhi kita, dan menghitung setiap berkat yang kita terima lewat orang-orang yang berada di sekitar kita.


2 Comments:
Sebaiknya keputusan untuk ikut training diambil berbasis venue training itu dan qualitas makan siang yang akan disajikan.
Tapi inget juga yang lain memperjuangkan diri sendiri ngga?? kalo supervisor males kenapa ngga staff-nya yang gigih???!!! ngomongin kopi jadi inget motto Adie MS dan Memes yang udah 20 tahun menikah..setara, sehati secangkir berdua.... mesranya....hmmm ngga ada hubungan yah???!^@&%^#%$
Post a Comment
<< Home