A Wish is a Dream Your Heart Makes
Beberapa waktu yang lalu gue mimpi jadi pemenang putri Indonesia. Aneh ‘kan? Nggak gue banget deh, secara gue juga bukan orang yang terobsesi dengan penampilan. Setelah gue pikir-pikir, keliatannya mimpi aneh itu gara-gara gue nonton “The Princess Diary 2” dan “Prince and I”. Ceritanya mirip dengan Cinderella atau Snow White, tapi dengan setting abad 21 di mana sang Cinderella bukan lagi punya identitas lain sebagai Upik Abu yang tertindas, tapi perempuan muda yang menyenangkan, pintar, berpendidikan tinggi, mandiri, aktif, dan punya cita-cita setinggi langit.
Yang menarik, tetap aja ada sosok seorang laki-laki di samping para perempuan pintar dan mandiri itu. Jadi selain idiom yang mengatakan bahwa “selalu ada perempuan di belakang seorang laki-laki yang sukses”, ternyata begitu pula sebaliknya. Cuma bedanya gue lebih suka menempatkan laki-laki di sebelah perempuan, bukan di belakang, karena rasanya lebih pas kalau kedua makhluk berbeda kelamin ini berdiri bersisian dalam menempuh perjalanan kehidupan. Kahlil Gibran pun mengatakan hal yang sama dalam puisinya mengenai perkawinan,
But let there be spaces in your togetherness,
And let the winds of the heavens dance between you.
Love one another but make not a bond of love.
Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.
Fill each other's cup but drink not from one cup.
Give one another of your bread but eat not from the same loaf.
Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone,
Kalau di “The Princess Diary 2”, si putri dari Genovia akhirnya dinobatkan menjadi ratu tanpa harus menikah dulu. Sementara di “Prince and I”, akhirnya si pangeran Denmark akhirnya menikah dengan gadis Amerika biasa, yang sedang menyelesaikan kuliahnya di kedokteran, and they live happily ever after... (mungkin, karena sequel ketiganya belum dibuat, hehehe...). Meskipun nggak menikah, ratu Genovia yang baru itu udah jatuh cinta dengan seorang pria muda yang masih keturunan bangsawan. Kesimpulannya?
I want to fall in love. Get up in the morning seeing his face, make breakfast for him, stay in bed the whole day..., itu yang dikatakan Diane Lane dalam perannya sebagai Sarah Nolan di film “Must Love Dogs” (2005). Dalam film itu ia berperan sebagai perempuan yang baru saja bercerai dengan pasangannya secara mendadak, tanpa ia mengerti akar permasalahannya. Seperti biasa, kakak dan adiknya berusaha keras untuk mencarikan pasangan baru baginya, mulai dari memperkenalkan dia pada teman dan kenalan mereka, sampai memasang iklan pribadi di internet. Hmmm..., ternyata Hollywood seperti Melayu juga, nggak bisa liat orang jadi jomblo. Bawaannya pengen mencarikan jodoh dan secara acak pula, tanpa peduli yang dicarikan jodoh itu mau atau enggak, atau mengerti kriteria pasangan seperti apa yang diinginkan oleh orang tersebut.
Hmm..., I was once in love with someone, whose face I saw when I get up every morning, whom I made breakfast for; but at some point, he said he was never truly, deeply, madly in love me, and fell in love with someone else instead.
I want you to be the last person I see before I go to bed, and the first person I see when I wake up in the morning. Siapa sih yang nggak meleleh kalau ada orang yang bilang gini ke kita? Dan itu terjadi pada gue, meleleh abisss..., apalagi di saat gue kehilangan saat-saat yang menyenangkan dengan adanya partner yang bisa menjadi teman seperjalanan. Tapi nggak seperti cerita dalam film-film yang udah gue sebutin, persoalan yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya nggak pernah sederhana dan mudah untuk diselesaikan. Seringkali nggak ada penyelesaiannya, alias gantung, sehingga kita harus pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Konon, sebuah keinginan, harapan atau bahkan mimpi, kalau kita yakini dengan sepenuh hati bahwa itu akan terjadi (apa bedanya dengan being obsessed ya?), hal itu akan sungguh terjadi.
Hmmm..., I’d better take the crown and do my victory walk. If you excuse me, I have a dream to finish.
Labels: Reflections


0 Comments:
Post a Comment
<< Home