Friday, August 03, 2007

Piknik


Mungkin nggak banyak orang yang tau kalau Kebun Raya Bogor sudah berusia 190 tahun pada tahun 2007 ini. Gue juga yakin, nggak banyak orang yang memahami sejarah dan perjalanan panjang Kebun Raya Bogor. Sejarah singkat Kebun Raya Bogor bisa dilihat di Wikipedia, sementara kali ini gue mau cerita pengalaman gue piknik ke Kebun Raya.

Beberapa minggu lalu gue ke piknik ke sana, setelah lebih dari 20 tahun nggak pernah menginjakkan kaki ke tempat itu. Terakhir kali gue ke sana waktu darmawisata jaman SD (istilahnya aja masih darmawisata!!), dan setelah itu nggak pernah lagi, meskipun kerap terbersit keinginan untuk pergi lagi ke sana. Dengan berbekal cool box berisi buah, sandwich dan minuman dingin; termos berisi kopi; selimut untuk alas duduk; dan novel, pergilah gue ke Kebun Raya Bogor. Tapi jauh-jauh ke Bogor nggak menyempatkan diri berwisata kuliner mah rugi bandar. Meskipun bekal di cool box seharusnya sudah mencukupi kebutuhan perut, tapi soal jajan nggak boleh ketinggalan. Tapi karena referensi wisata kuliner gue udah out of date banget, tujuan wisata kuliner akhirnya diarahkan ke jalan Suryakencana, karena itu lah tempat jajan gue jaman dulu sama bokap nyokap.

Setelah menyisir jalan Suryakencana, gue nggak berhasil menemukan tempat jajan gue dulu yang terletak di sebuah gang, sementara kita harus memutuskan untuk berhenti di suatu tempat, karena perut udah keroncongan. Akhirnya kita berhenti di sebuah rumah makan yang menjual nasi campur, nasi bebek dan sebangsanya. Not too bad, but nothing special. Yang bikin kesel, begitu kita keluar dari rumah makan itu, kita melihat banyak sekali penjual makanan di sepanjang jalan. Ada ngohiong, pangsit pengantin, combro, roti unyil, soto mie, toge goreng, laksa, aneka soto…, pokoknya heboh banget lah. Hmmm...., dari mana datangnya para penjual makanan itu ya? Perasaan tadi pas kita cari-cari nggak ada deh...

Gue sama sekali nggak inget seperti apa bentuk dan isi Kebun Raya, jadi waktu akhirnya gue berada di dalamnya, rasanya seperti baru pertama kali datang ke tempat itu. Gue nggak mengira kalau tempat itu ternyata luas sekali. Untung aja mobil boleh masuk, jadi kita nggak usah cape-cape jalan kaki mengelilingi kebun yang luas itu. Gue juga baru tau kalo mobil boleh masuk, karena dulu waktu SD kita naik bis, yang diparkir di halaman depan Kebun Raya, lalu kita harus jalan kaki mengelilingi tempat itu.

Setelah mampir ke rumah anggrek (yang sayangnya sedang nggak berbunga) dan mencari-cari spot yang tepat untuk berhenti, kita akhirnya menemukan tempat yang teduh. Gile, rasanya geli sendiri deh gue, sibuk menebar koran bekas untuk alas selimut, trus cari posisi yang enak untuk duduk dan mulai membaca. Ternyata masih lebih nyaman duduk di sofa (iya lah!!) ketimbang duduk di tanah, hahahaha... Tapi begitu gue merebahkan diri dan diam memandang langit, baru deh pelan-pelan terasa bahwa sebuah rasa nikmat dan bahagia nggak harus selalu mahal. Rebahan sambil memandang awan putih yang berarak di langit biru dihembus angin semilir, memandang burung-burung walet yang berkicau sambil melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, mendengarkan bisikan daun-daun yang bergesek ditiup angin..., rasanya nikmat banget!! Gue jadi berkhayal, seandainya di dekat kantor ada sebuah taman seperti ini, pasti gue akan lebih banyak menghabiskan waktu di taman ketimbang di meja gue. Nggak perlu segede Kebun Raya deh, seperempatnya aja juga udah bagus. Yang penting terpelihara baik, bersih dan nggak dipenuhi kaki lima berjualan. Lebih bagus kalo bisa wifi, jadi gue bisa bawa laptop dan dihubungi kapan aja lewat email, hahahahahaha...

Hmmm..., kira-kira, bang Fauzi atau bang Adang punya rencana untuk memperbanyak taman kota yang dilengkapi dengan fasilitas wifi nggak yaa??

1 Comments:

At 2:14 pm, Anonymous Anonymous said...

Ya oloh booo..plis deh ah ..kok Kebun Raya??!!! kenapa ngga nongkrong di Cafe Daun?? tapi bener deh ikke juga sampe sekarang belum pernah lagi merambah Kebon Raya... jadi selamet yeeee...semoga engkau menjadi salah satu yang ikut melestarikan "asset" Indonesa kita.

SS

 

Post a Comment

<< Home