A Tribute to AS
Terbakarnya pesawat GA 200 jurusan Jakarta-Jogjakarta menyisakan duka dan kepedihan yang mendalam, terutama bagi keluarga dan kerabat korban. Salah satu korban adalah big boss, AS. Pada hari naas itu beliau sedang dalam tugas untuk menemani Menteri Luar Negeri dalam kunjungan kerjanya di Jogjakarta. AS seharusnya berangkat hari Selasa sore, 6 Maret 2007, namun karena acara dengan Menlu pada hari itu mengalami keterlambatan, beliau tidak sempat mengejar penerbangan terakhir ke Jogjakarta.
Jalan hidup manusia memang tidak dapat diduga. Sebagian besar dari kita bertanya, mengapa orang sebaik AS harus secepat ini pergi meninggalkan kita? Masih terngiang di telingaku dumelannya saat aku menggoda beliau hari Selasa kemarin, sewaktu dia mengenakan t-shirt dengan tulisan agency besar-besar di bagian punggung, yang menurutku, ”It’s like saying ’shoot me’!”. Masih juga terdengar di telingaku ide isengnya untuk branch meeting berikut, di mana beliau berencana untuk mengadakan kompetisi untuk staff. ”No ugly t-shirt contest, please”, begitu pintaku, dan beliau berjanji tidak akan mengadakan lomba karaoke atau kontes t-shirt terburuk. Masih juga terlintas di kepalaku pembicaraan kami mengenai team building yang sudah sangat lama tidak kita adakan (terakhir di Bogor, kalau tidak salah tahun 2004). Beliau mengatakan, saat ini sulit sekali untuk mengadakan acara seperti itu lagi karena semakin banyaknya jumlah staff kami di Indonesia. Tapi beliau juga menawarkan beberapa ide untuk pertemuan kerja di luar kantor, seperti mengadakan planning day atau retreat untuk unit-unit, cross sectoral meeting, atau retreat untuk program manager di embassy cottages. Beliau akan mendukung ide-ide seperti itu, dan bersedia mengalokasikan dana. Menurutku ide-idenya sangat masuk akal dan bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan untuk menggantikan acara team building. Bagi kita, keputusan beliau kadang kontroversial dan terkesan tidak memahami kebutuhan staff, tetapi sebetulnya pertimbangannya lebih pragmatis, dan beliau selalu menawarkan alternatif jalan keluar yang lebih masuk akal dan bisa dilakukan. Namun demikian, beliau juga lah yang membuat terobosan untuk membantu meringankan tekanan pekerjaan kita semua, supaya kita tetap punya waktu pribadi dan fleksibilitas dalam mengatur beban kerja.
Kesan terakhir lainnya adalah waktu aku menemani beliau dan partner kerja barunya di kantor pusat, pergi ke Makassar. Rencananya kami akan bertemu dengan kepala Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan, sebelum pergi ke salah satu lokasi pembangunan SMP di kabupaten Gowa. Hingga sehari sebelum berangkat, pertemuan dengan kepala Dinas masih confirmed. Ketika kami tiba di tempat, ternyata kepala Dinas sedang mengadakan rapat kerja dengan Inspektorat Jendral Diknas, sehingga pertemuan terpaksa dibatalkan. Tidak ada sedikit pun kesan kesal di wajah AS, selain pemikiran mengenai alternatif lain. Bahkan ketika beliau harus menunggu selama hampir 3 jam di lokasi pembangunan SMPN 2 Parangloe, tidak ada raut marah atau pun kesal di wajahnya. Dengan sabar (dan tabah), beliau menunggu sambil meneruskan dialog dengan kepala sub-Dinas Pendidikan kabupaten Gowa dan kepala pembangunan SMP. Beliau lebih concern dengan bapak-bapak yang sudah menunggu lama, karena beliau tidak mau merepotkan bapak-bapak tersebut lebih lama lagi. Bahkan beliau sempat merasakan ’berkunjung’ ke toilet darurat di lokasi tersebut, yang letaknya berada di belakang kantor komite pembangunan, yang tidak terlindungi bangunan apapun, alias di alam terbuka!! Kami sempat menertawakan hal ini, bergurau bahwa ”it’s a toilet with a view, and you can’t get it anywhere else”. Beliau juga menyatakan keheranannya padaku karena aku sama sekali nggak pergi ke toilet dan lebih memilih menahan pipis, dan menyuruhku pergi ke toilet ketika kami tiba di Garuda lounge di bandara Makassar. Mana ada seorang big boss, yang begitu perhatian pada staff, bahkan untuk persoalan yang paling pribadi seperti itu?
Yang tidak kalah menakjubkannya, selama kunjungan tersebut, AS lah yang menerjemahkan untuk partner kerjanya, sementara aku sibuk ‘menginterogasi’ ketua komite pembangunan sekolah dan kepala sub-Dinas. Kita berdua saling mengisi satu sama lain dengan berbagai pertanyaan seputar pembangunan sekolah dan juga masalah pendidikan secara umum. Kalau pertanyaan AS tidak dimengerti, aku yang akan bertanya dengan cara lain; begitu pula sebaliknya. Nggak pernah ’kan terbayang seseorang dengan posisi setinggi itu bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih, apalagi mau menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris untuk tamunya? AS juga tergolong boss yang low maintenance dan self-sufficient, alias mandiri dan nggak rewel sepanjang perjalanan, meskipun kita melewatkan waktu makan siang. Beliau nggak minta aku mengurusi dirinya waktu check out dari hotel dan check in di bandara, tapi dengan senang hati aku membantu beliau dan partner kerjanya mengkonfirmasi ulang tiket mereka dan sewaktu check in di bandara. AS nggak pernah sedikit pun terlihat bossy, sehingga orang akan dengan senang hati membantu beliau tanpa diminta.
Meskipun sibuk, tapi AS selalu menyempatkan diri untuk menyapa staff-nya, atau membalas sapaan atau godaan dari staff. Beliau rajin mengingatkan staff untuk menyeimbangkan kehidupan personal dan profesional, dan akan mulai ribut ’mengusir’ staff pulang ke rumah bila hari sudah mulai gelap. Beliau selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan staff, di sela-sela jadwalnya yang sangat padat. Pintu kamarnya selalu terbuka untuk siapapun dan dalam situasi apapun. Pada saat-saat krisis, seperti pada waktu Tsunami dan gempa di Jogja, AS nggak panik dan langsung bergerak cepat. Beliau sangat dihormati oleh kolega dari lembaga donor lain dan juga pemerintah Indonesia. Singkatnya, AS adalah salah satu pemimpin terbaik yang pernah kita miliki di agency. Tidak akan pernah ada kata-kata yang bisa melukiskan betapa istimewanya beliau bagi orang-orang yang pernah bekerja dan berteman dengannya; untuk melukiskan betapa besar kehilangan yang dirasakan oleh keluarga, sanak saudara, kerabat, teman dan koleganya. AS, you’re irreplaceable and will be greatly missed.
Good bye, AS. May your soul rest in peace.


1 Comments:
Good for people to know.
Post a Comment
<< Home