Wednesday, January 10, 2007

And they live happily ever after… (and then what??)

Hampir semua anak pernah mendengar cerita Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur (Sleeping Beauty), Bawang Merah dan Bawang Putih, Ande-ande lumut, dan Jaka Tarub. Inti dari seluruh cerita itu adalah seorang perempuan muda yang mengalami penderitaan tiada akhir, dan akhirnya terlepas dari derita itu berkat pertolongan seorang pemuda/pangeran gagah dan tampan. Pasangan itu pun menikah dan hidup bahagia selamanya.

Sebetulnya mungkin tidak ada yang aneh atau salah dalam cerita-cerita itu, tapi pertanyaan yang diajukan oleh Debbie pada hari pertama tahun 2007 membuat gue berpikir. Pertanyaannya sih sederhana, “Apa yang loe pelajari dari pernikahan?” Jawabannya beragam, tapi jawaban final dari gue, “Yang pasti, nggak ada tuh cerita live happily ever after seperti Cinderella atau Putri Salju. Yang ada, pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan dan perjuangan yang panjang”. Ketiga temen gue mengiyakan, dan tiba-tiba kita teringat cerita-cerita dongeng Walt Disney. Semua dongeng itu berhenti pada kalimat, “… and they live happily ever after”. Tapi setelah itu nggak pernah diceritakan bagaimana kisah hidup para perempuan itu, apakah mereka terus bahagia, apakah kemudian suami mereka atau mereka sendiri jatuh cinta lagi pada orang lain. Siapa tau Cinderella selingkuh dengan Jaka Tarub, Putri Salju jadi bulimia dan neurotic karena tertekan oleh tingkah suaminya yang suka menyiksa dia, dan Putri Tidur bunuh diri setelah memergoki suaminya sedang tidur dengan seorang lelaki muda.

Jadi, maksudnya apa? Sebetulnya sederhana, bahwa pernikahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, bahwa pernikahan tidak menjamin kebahagiaan seseorang (apalagi sampai seumur hidup), bahwa pernikahan tidak seperti yang digambarkan dalam cerita dongeng Walt Disney atau cerita-cerita rakyat kita. Tapi jangan salah paham dengan menyimpulkan bahwa pernikahan adalah neraka dunia yang selalu membawa derita. Tidak ada yang salah dengan lembaga itu. Kesalahan ada pada aktor yang terlibat, yaitu persepsi kita tentang pernikahan dan konsekuensinya pada expectation dan sikap kita terhadap pasangan maupun lembaga pernikahan itu sendiri. It takes two to tango, butuh kesepakatan, komitmen, saling pengertian, dan kerjasama yang kuat di antara dua orang yang terlibat dalam kontrak tersebut. Jadi, agak kurang pas kalau orang melangkah ke jenjang pernikahan dengan harapan akan hidup bahagia selamanya dengan pasangannya; atau tadinya nggak bahagia, berharap pernikahan bisa memberikan kebahagiaan.

Hmm…, tapi sebetulnya gue masih bertanya-tanya, gimana ya kelanjutan cerita Cinderella dan teman-temannya setelah menikah?

1 Comments:

At 6:13 pm, Blogger Daniel Hunt said...

I'm pretty sure Cindarella was a lesbian.

 

Post a Comment

<< Home