Monday, December 11, 2006

Anakmu Bukan Milikmu

Your children are not your children,
They are the sons and daughters of Life's longing for itself
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts

You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,

which you cannot visit, not even in your dreams
You may strive to be like them, but seek not to make them like you,
For life goes not backward nor tarries with yesterday

You are the bows from which your children as living arrows are sent forth,
The archer sees the mark upon the path of the infinite,

and He bends you with His might that His arrows may go swift and far
Let your bending in the archer's hand be for gladness,
For even as He loves the arrow that flies,

so He loves also the bow that is stable

(Children, Kahlil Gibran)

Hidup manusia bagaikan cross country marathon, dengan sejumlah titik perhentian yang melambangkan pencapaian kita dalam lomba tersebut. Manusia lahir, tumbuh kembang menjadi seorang anak kecil, memasuki masa remaja, melangkah ke masa dewasa muda, kemudian menjadi individu dewasa dengan segala tanggung jawab baru - bekerja, menikah, beranak-pinak, menikmati masa tua, sampai akhirnya kembali pada sang Khalik. Proses ini dianggap sebagai sebuah kelaziman yang berlaku universal, dengan perkecualian mereka yang memilih untuk hidup selibat. Pilihan itu pun seringkali dipertanyakan, dengan berbagai spekulasi mengenai motif dan alasannya. Apakah dia homoseksual, apakah dia pernah mengalami trauma masa kecil sehingga tidak mampu menjalin hubungan intim dengan orang lain, dan seribu satu pertanyaan lainnya. Begitu sulitkah menerima kenyataan bahwa ada sejumlah orang yang punya pilihan berbeda dengan pilihan orang lain pada umumnya?


Saat seseorang memasuki siklus kehidupan dewasa, berbagai pertanyaan standar seolah membuntuti dirinya.

Masa dewasa muda
Kuliah di mana? Jurusan apa? Kenapa ambil jurusan itu, emang nanti kalau lulus kerjanya apa?

Ketika satu fase kehidupan menjadi mahasiswa sudah dilalui, pertanyaan dan komentar baru pun muncul. Kapan kerja? Kerja di mana? Kenapa kerja di situ, 'kan duitnya nggak banyak. Kapan menikah? Jangan terlalu pemilih, yang penting cari calon yang baik dan masa depannya cerah. Apalagi sih yang ditunggu?

Saat fase itu berlalu, lingkungan sosial kita seolah tidak pernah puas dan lelah bertanya dan berkomentar tanpa diminta. Sudah punya anak belum? Kenapa belum? Jangan ditunda lama-lama dong. Coba ke dokter X atau ke klinik Y, banyak makan tauge dan kerang, supaya subur. Lebih baik berhenti kerja, supaya nggak stress. Punya anak enak lho, nggak kesepian, ketika tua ada yang mengurusi.

Di tengah situasi dunia yang carut-marut dengan kemiskinan, bencana alam, pembodohan massal, kekerasan, pertumpahan darah, dan kekejian, apa layak kita menghadirkan manusia baru seandainya kita tidak mampu memberikan masa depan dan dunia yang baik padanya? Apakah adil bila kita menghadirkannya hanya untuk mengurusi kita di saat kita sakit dan menjadi tua? Bagaimana mungkin kita menghadirkan manusia baru kalau kita sendiri tidak mampu bertanggung jawab terhadap hidup kita? Buat apa kita menghadirkan manusia baru bila hanya menjadi pajangan dan mainan yang bisa kita pamerkan pada lingkungan kita, tetapi kemudian kita serahkan pada orang lain untuk mengasuhnya saat kita punya prioritas lain yang dianggap lebih penting?

Sementara begitu banyak anak yang masih terlantar di panti-panti asuhan; mengais rejeki di pinggir jalan maupun di sentra-sentra industri, dengan upah yang minim dan kondisi kerja yang sangat tidak layak bagi seorang manusia muda; menanggung derita penganiayaan fisik maupun seksual dari orang-orang terdekatnya, yang seharusnya memberikan perlindungan dan kasih sayang; mengangkat senjata demi mempertahankan sebuah konsep yang tidak mereka mengerti.....

Memiliki anak memang pilihan yang mulia; tapi memilih untuk tidak memiliki anak dan lebih memilih untuk mendedikasikan hidup untuk sebuah tujuan yang lebih besar dan bermanfaat bagi lebih banyak orang, rasanya juga tidak kalah mulia. Dalam hidup, kita harus selalu membuat pilihan. Kadang kita memilih hal yang salah, tapi justru dari situ lah kita belajar untuk memperbaiki diri. Akan banyak pertanyaan dan komentar yang muncul, saat kita membuat keputusan yang tidak umum. Namun demikan, pilihan dan keputusan yang kita buat tidak harus dipertanggungjawabkan pada orang lain, melainkan pada sang Empunya Kehidupan.

Labels:

2 Comments:

At 4:04 pm, Blogger Daniel Hunt said...

Wow, gee, thanks Tiwa, aku senang baca ini. Kalau gitu, aku juga don't want to have kids. And that means I can stop looking for a person to have kids with! Wow, what a relief. Life suddenly just got so much easier! Thanks again!

 
At 9:37 am, Blogger Emilia said...

Wah dalem banget niiih..I couldn't agree more karena I got those questions a lot. But I also agree that having a kid is also a miracle. It's about tanggung jawab pada empunya kehidupan dan sebuah commitment terhadap si anak..

Kalo di sinetron judulnya "anakku bukan anakku" :-)

 

Post a Comment

<< Home