Friday, July 14, 2006

Catatan akhir minggu - 14 July 2006

Kurang lebih sejak sebulan terakhir, ada kebiasaan untuk bikin catatan akhir minggu yang dimulai oleh PE. Sejak minggu lalu, gue menyumbang catatan gue, sebagai catatan tandingan dari Kebon Sirih. Ini cuplikan catatan gue minggu ini, yang terinspirasi dari obrolan makan siang hari Rabu dengan tiga temen yang kebetulan sama-sama udah berstatus 'nyonya'.

Hot topic of the week: MARRIAGE LIFE. Gue selalu menganalogikan hidup perkawinan seperti benteng - yang di dalam pengen keluar, sementara yang di luar pengen masuk ke dalam. Meskipun udah mengikuti berbagai teori yang ada di majalah, prakteknya nggak semudah yang dibayangkan. Menurut mbak Nina, kalo dulu ibaratnya seperti lampu yang terangnya 100 watt, sekarang ini tinggal 5 watt aja. Kalau dulu kesenggol aja udah kesetrum, sekarang mau diapain aja udah kebal seperti gedebok pisang, hahahahahaha.... Masih menurut mbak Nina lagi, justru yang haram-haram ini yang enak dan setrumannya kenceng banget, bo'!! ;p Mbak Nina..., buah nangka, buah semangka, nggak nyangka, nggak nyangka... :D

Nah..., kalo setrumannya tinggal 5 watt, trus gimana dong? Apakah masih mungkin lampu yang hampir padam itu di-charge lagi? Apakah hal-hal atau kebiasaan yang dulu membuat kita jatuh cinta pada pasangan kita, sekarang masih terasa cute dan indah, atau malah jadi mengesalkan?

Kalau ternyata udah dicoba sulit (karena kita lagi mengalami krisis listrik), apa yang harus dilakukan? Ganti lampu baru atau dibiarkan menjadi padam sama sekali? Buat pasangan yang punya anak, mungkin ini faktor yang membuat mereka bertahan dalam pernikahan, sementara de facto, mereka udah jalan sendiri-sendiri. Tapi buat yang enggak?? Ada beberapa hipotesis: karena pengaruh sosial yang masih menganggap tabu perceraian, takut hidup sendiri, gengsi dan demi public relations, atau salah satu tergantung secara ekonomi maupun secara kejiwaan (tentu aja masih ada faktor lainnya). Mungkin nggak bertahan dalam pernikahan dan menjadi teman, sementara masing-masing ya berjalan dengan kehidupannya sendiri-sendiri dan tidak saling mengganggu privacy satu sama lain?

Untuk menambah rumit diskusi, gimana kalau ada cinta lain yang tiba-tiba 'nyelonong kayak bajaj? Seperti lagunya Titi DJ, "Salahkah aku bila kini, ada asmara lain di hati..." Bukankah pernah ada yang mengatakan bahwa cinta seperti pencuri yang datang di malam hari. Kita nggak pernah tau kapan dia datang, dan di rumah siapa dia akan mentargetkan sasarannya. Au' ah, gelap!!

Nggak ada kesimpulannya, karena semua tergantung lagi pada tiap individu untuk mengolahnya. Tapi buat yang sedang menikmati kehidupan pernikahan, dinikmati aja selagi masih bisa dan selagi lampunya masih terang-benderang ;-). Nanti kita compare notes in two or three years time ;p.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home