Thursday, March 23, 2006

To rebonding or Not to be....

Pada suatu hari Minggu sore, gue memutuskan untuk mengunjungi Ismet, hairstylist gue, di sebuah salon di daerah Menteng. Resepsionis salon bilang kalau Ismet hari itu nggak masuk. Berhubung gue udah gerah banget sama rambut gue yang udah hampir satu tahun nggak pernah tersentuh gunting rambut, gue tetep nekad pergi ke salon dan pasrah aja sama pilihan mbak resepsionis.

Sampai di salon, rambut gue dicuci, dan setelah itu gue duduk manis di kursi sambil baca-baca majalah dengan sampul mengkilap dan dihiasi wajah cantik. Busyeet…, udah setengah jama nih gue nunggu, tapi belum ada tanda-tanda akan mulai ‘penjagalan’. Akhirnya nggak lama kemudian datenglah si empunya salon yang hairstylist super kondang di metropolitan Jakarta ini. Sambil mulai megang-megang rambut gue, dia nanya,

”Kenapa sih rambutnya nggak direbonding aja?”

Nah...., ini dia nih! Dengan sabar gue jawab, ” Enggak ah, entar rambut jadi kering dan rusak”.

”Enggak kok. Naila aja direbonding rambutnya,” jawab si top hairstylist ini kekeuh. GUBRAAAKK!!! Naila, model kondang berkulit gelap dan berambut keriting itu, akhirnya menyerah pada tekanan publik yang mengagung-agungkan perempuan berambut lurus panjang? Apa yang terjadi pada dunia? Apakah ini tanda-tanda akhir zaman, saat di mana semua perempuan di muka bumi ini akhirnya tunduk pada image (yang dibuat entah oleh siapa) dan mitos kecantikan yang menyatakan bahwa perempuan cantik adalah perempuan berkulit putih dan berbadan langsing seperti gitar, dengan rambut lurus panjang bak mayang terurai. Naila, oh Naila, runtuhlah kepercayaan diriku mendengar kabar yang sangat mengejutkan ini. Tahukah kamu bahwa selama ini kamulah yang menjadi inspirasiku, membuat aku akhirnya mencintai rambut keritingku yang dulu sangat kubenci, dan kekeuh bertahan terhadap gempuran promosi rebonding dan smoothing?? Kalau akhirnya kamu menyerah pada tekanan para hairstylists, bagaimana dengan nasib perempuan berambut keriting lainnya? Bagaimana dengan nasib gue?

Sang hairstylist kondang itu menolak untuk menggunting rambut gue sampai gue memutuskan untuk rebonding. Sebetulnya gue bisa aja marah-marah dan memaki-maki dia karena nggak bisa melayani pelanggan dengan baik dan juga menuduh dia nggak kompeten karena dikasih rambut keriting aja udah ’nyerah. Tapi berhubung saat itu gue masih shock berat gara-gara kabar Naila, gue akhirnya setuju aja waktu dia memberikan instruksi pada staffnya untuk mencatok rambut gue, supaya gue bisa liat bedanya muka gue dengan rambut lurus.

Emang sih, muka gue keliatan lain dan gue suka juga dengan wajah yang terlihat di cermin. Tapi gue masih nggak rela untuk tunduk pada tekanan untuk mengikuti ’aturan’ umum.

Tekanan untuk rebonding ternyata nggak berhenti sampai di situ. Beberapa hari yang lalu gue memutuskan untuk gunting rambut di sebuah salon di Plaza Indonesia, sambil menunggu waktu arisan sama temen-temen gue. Berhubung gue nggak pernah ke salon itu, gue pasrah aja dengan pilihan hairstylist si mbak resepsionis. Waktu si hairstylist ini dateng ke tempat gue duduk, dengan muka prihatin dia mulai megang-megang rambut gue. Dia nggak se-vulgar hairstylist sebelumnya, tapi intinya dia prihatin banget ngeliat rambut keriting gue (lengkap dengan ekspresi wajahnya yang sedih, seolah-olah ’ngeliat ketombe segede biji jagung jatuh dari kepala gue). Duhh...., not again!! Apakah ini konspirasi para hairstylist yang disponsori oleh produsen produk rebonding melawan para perempuan berambut keriting?? Akhirnya lagi-lagi rambut gue dicatok setelah selesai digunting (apa sebetulnya gue udah kecanduan punya rambut keriting?).

Apa yang salah dengan rambut keriting sih?? Emang rambut keriting itu cenderung kering dan susah banget diatur, tapi itu kan bukan mau gue. Lagian, dikasihnya gitu, ya diterima aja kan? Lagi pula, eksistensi gue sebagai individu ’kan nggak relevan dengan jenis dan model rambut.

Tapi...., sebetulnya jauh di lubuk hati, gue masih dilema. Direbonding atau enggak yaaa.......

0 Comments:

Post a Comment

<< Home